Minggu, 23 Maret 2008

Pengendalian Emosi

Pada dasarnya pengendalian emosi selalu menjadi tantangan bagi kita semua dalam mengaktualisasikan diri kita. Sukarnya memang, kalau kepala ini lagi mumet dan berisi segala macam pikiran yang berterbangan, dapat saja dengan mudah kita menjadi emosi. Padahal pemicu emosi itu hanya masalah kecil, tapi karena dikepala banyak berterbagan pikiran-pikiran lain yang lebih mumet, jadinya masalah kecil bisa menjadi besar.
Solusinya memang kita mesti bisa melakukan 'mind mapping'. Pertama, kita harus bisa menempatkan prioritas, mana hal-hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan mana yang belakangan. Kedua, kita pun juga harus bisa membedakan mana masalah kecil dan mana masalah besar. Masalah besar yang diselesaikan duluan, dan masalah kecil bisa diselesaikan dengan lebih santai. Ketiga, kita mesti lebih rileks dan santai dalam menghadapi permasalahan. Sering kali masalah itu datang dari orang-orang yang dekat dari kita. Sering kali kita merasa bahkan orang yang paling dekat dengan kita, ternyata tidak mampu memahami kita dengan baik. Sering kali pemikiran kita dianggap sepi oleh orang-orang yang kita cintai, namun justru lebih dihargai oleh orang lain diluar lingkaran dalam kita. Situasi ini menyakitkan dan ironis, karena tentu kita mengharapkan agar orang2 dekat kita mampu memahami kita, namun ternyata sering kali tidaklah demikian. Namun aku selalu ingat, bahwa Nabi sering sekali tidak dikenal atau bahkan ditolak di kampung halamannya. Justru diluar kampung halamannya mereka lebih terkenal. Ada kalanya kesabaran sangat penting dalam hal ini.
Solusi paling jitu dalam pengendalian emosi adalah sholat, sembahyang, atau meditasi dengan benar. Sebetulnya proses2 yang saya sebut didepan itu adalah proses relaksasi dan reporgramming pikiran, agar pengendalian emosi dapat dilakukan. Hal inilah yang harus dilakukan dengan sangat baik. Jika berhasil dengan baik, maka niscaya kita akan menjadi orang yang sabar dan tabah. It's just my one bucks coffee after all...:-)

Minggu, 03 Februari 2008

Talkshow Netsains.Com: Dosen dan Ilmuwan Cuap-cuap di Tengah Mall

Dosen dan ilmuwan beraksi di tengah pusat pertokoan? Tak tanggung-tanggung, mereka bertestimoni mengenai indahnya menulis sains popular di dunia maya. Itulah yang terjadi di ajang Talkshow "Internet sebagai Media Popularisasi Sains" yang digelar Netsains.Com pada sabtu, 2 Februari 2008, di tengah SENIT Expo. Bertempat di satge lower ground Senayan Trade Center (STC), acara dibuka oleh Idwan Suhardi, Deputi Pemberdayaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementrian Riset dan Teknologi.

Oplah Tertinggi

"Internet adalah media dengan oplah tertinggi di dunia. Di Indonesia saja diklik oleh 18 juta orang setiap hari. Jadi mengalahkan Kompas dan media cetak lainnya," ungkap Romi Satria Wahono, pendiri Ilmukomputer.Com yang juga kontibutor Netsains.Com.

Lelaki yang juga peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mengenyam pendidikan 10 tahun di Negeri Sakura ini bertutur tentag suka duka berbagi ilmu di Internet sejak 2003 silam. Romi mengaku menulis blog sudah menjadi kebutuhan tersendiri yang kadang bisa mengalahkan pekerjaan sekalipun. "Saya bisa menolak panggilan hanya karena memang sedang ingin menulis saja di rumah." Ujarnya.

Merry Magdalena, dalam kapasitasnya sebagai founder Netsains, maju sebagai moderator talkshow. Sebelum pembicara yang lain dipanggil maju. Merry memberikan presentasi singkat mengenai komunitas Netsains. Presentasi tersebut diharapkan bisa memberikan penjelasan kepada audiens mengenai Netsains. Presentasi disampaikan dengan jelas, lancar, dan informatif.

Tak Takut Dibajak

Tak kalah menarik aksi Budi Rahardjo. Dosen Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengaku menulis di Internet jauh lebih banyak manfaatnya kendati tidak ada honorarium sama sekali. Walau karya tulis ilmiahnya sempat dibajak menjadi skripsi orang lain, ia tidak pernah kapok untuk terus berbagi ilmu di Internet. "Orang akan tahu karya siapa itu sesungguhnya. Jadi tak perlu ada kekawatiran tulisan kita dicuri orang lain," ujar lelaki berkumis yang hobi nongkrong di kafe ini.

Terkenal dengan blognya http://rahard.wordpress.com, Budi yang akrab disapa "BR" ini berkisah bahwa memang sebaiknya sains dan teknologi dipopulerkan dengan cara yang menyenangkan dan menarik sejak usia dini. Internet sebagai salah satu media yang paling efektif bisa dijadikan sarana untuk itu selain buku atau acara televisi. Mengaku mendapat inspirasi dari gaya presentasinya Bill Gates dan Steven Jobs, beliau membawakan presentasi sebagai layaknya seorang entertainer ulung. Materi yang beliau bawakan adalah mengenai 'internet dan anak-anak'. Di situ Pak Budi menekankan pentingnya mempopularisasikan sains pada anak-anak, karena mereka adalah generasi penerus. Dalam presentasinya, sempat dijabarkan betapa suramnya dunia tanpa keberadaan engineer, dan dimana engineering menjadi pemberi pencerahan pada kemanusiaan.

Fiksi Ilmiah

Ilmuwan yang berkutat di laboratorium pun bukan berarti tak bisa juga berlaga di Internet. Ini dbuktikan dengan Arli Aditya Parikesit, ilmuwan dan dosen bioinformatikan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) yang rajin menulis di Internet. Arli yang tertarik dengan bioteknologi dan filsafat ini banyak mengangkat tema sains yang dikaitkan dengan fiksi ilmiah. "Karya fiksi ilmiah seperti ciptaan Jules Verne yang dulu hanya imajinasi, kini pelan-pelan menjadi kenyataan berkat kemajuan sains dan teknologi," papar Arli. Walau menulis di Internet memangsangat menyengangkan, baik Arli, Budi maupun Romi tetap setia menulis di jurnal ilmiah.

Sementara Muhammad Fahmi Aulia mewakili blogger berbagi pengalaman ikwal indahnya menulis blog. "Diawali dengan narsis, catatan harian, kelamaan saya juga menulis artikel yang agak teknis. Akhirnya saya juga tertarik mengirimkannya ke Netsains," ungkap Fahmi yang alumni Teknik Fisika ITB ini.***


Dilink dari http://www.netsains.com

Minggu, 16 Desember 2007

Kunjungan ke Boscha

Pada tanggal 15 Desember 2007, komunitas netsains mengadakan gathering lagi di Observatorium Boscha. Acara ini sebenarnya berbarengan dengan gawenya Ristek, dalam melaunching teleskop matahari di Boscha. Saya sendiri sangat happy, karena bisa melihat dengan mata kepala sendiri Boscha itu seperti apa. Selama ini cuma tahu Boscha seperti apa dari film Sherina. Ada beberapa rekan, yang sebelumnya hanya kukenal di dunia maya, akhirnya bisa copy darat juga. Mereka diantaranya adalah pengurus iBiotech, yaitu: Audrey, Doti, dan Kalman. Menristek sendiri mengusulkan supaya Observatorium Boscha dijadikan maskot netsains. Kamipun berbincang-bincang mengenai banyak hal, Pak KK dengan gaya humornya yang selalu segar, dan Merry dengan celetukan-celetukannya :=). ITB justru diwacanakan untuk dijadikan server netsains. Aku sih ok-ok saja. Ada banyak pengalaman menarik disana. Lengkapnya, klik saja di http://www.netsains.com/index.php/page_info/pid_345 . Lucu...kalo mengenai maskot netsains, nanti aku usulkan ke forum supaya Kamar Jenazah RSCM dijadikan maskot tambahan *wakakakak*.